Rekonstruksi Pembunuhan Mahasiswi Asal Probolinggo Digelar di Batu dan Pasuruan

oleh -20 Dilihat
oleh

Pasuruan, BintangPatra.com – Polda Jawa Timur terus mengusut kasus pembunuhan Faradila Amalia Najwa (21), mahasiswi asal Desa Tiris, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo.

Korban ditemukan tewas di parit Desa Wonorejo, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, pada Selasa (16/12/2025).

Untuk menguatkan penyidikan, polisi menggelar rekonstruksi pada Selasa (13/1/2026) di dua lokasi.

Lokasi pertama berada di kawasan Cangar, Kota Batu, sementara lokasi kedua di Desa Wonorejo yang merupakan titik pembuangan jasad korban.

Baca Juga :  Warga Ngembal Laporkan Dugaan Penipuan Kerja Sama Kredit Emas ke Polres Pasuruan

Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur, mengatakan rekonstruksi ini bertujuan mencocokkan keterangan para tersangka dengan fakta di lapangan. Seluruh adegan diperagakan tanpa adanya sanggahan dari tersangka.

“Rekonstruksi ini penting untuk memastikan kesesuaian keterangan tersangka dengan kejadian sebenarnya. Semua adegan sesuai dengan BAP,” ujar Arbaridi.

Dalam rekonstruksi tersebut, terdapat 15 adegan yang diperagakan, mulai dari penghentian kendaraan, proses menurunkan jasad korban, hingga pembuangan jasad ke parit di Wonorejo.

Baca Juga :  Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Pasuruan Mendadak Segel Cafe Edelweis

“Di lokasi Wonorejo ini khusus memperagakan adegan pembuangan jasad korban. Tidak ada keberatan dari tersangka,” jelasnya.

Polisi juga mendalami dugaan upaya pelaku menghilangkan jejak. Dari hasil rekonstruksi, terungkap bahwa tersangka sempat menyusun skenario agar kematian korban terlihat seperti akibat kejahatan jalanan.

Hal itu diperkuat dengan adanya pembelian helm di tengah perjalanan dari Malang menuju Pasuruan, yang rencananya digunakan untuk mendukung skenario palsu tersebut.

Baca Juga :  Kuta-Bali di Guncang Gempa Magnitudo 4,3 Tidak Menimbulkan Tsunami

“Tadi juga kami tanyakan kembali soal helm yang digunakan korban dibeli di mana. Namun tersangka mengaku lupa,” kata Arbaridi.

Sementara itu, motif sementara pembunuhan diduga dipicu rasa sakit hati tersangka terhadap korban akibat konflik sebelumnya. Polisi menegaskan masih mendalami kemungkinan adanya motif lain.

“Setelah ini, kami akan melanjutkan proses penyidikan serupa di wilayah Probolinggo,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *